Wow, ada rasa haru juga setelah lamaa banget nggak liat dashboard ni blog.. :))
Kebetulan teman saya yang luar biasa baru beli domain dengan nama yang unik, cek deh di http://www.phantomhive.org jadi kepikiran buat ngecek tong sampah ini.
Oke,, let's hear some songs from your mp3,, dimulai dengan lagu Goognight Goodnight by Maroon 5 deh, biar terasa galau dikit. :).. Ga punya lagunya? donlot sana gih.. heehe
Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan kali ini. Hmm, masalah mata. Bukan hanya karena mengkhawatirkan rumus gravitasi kali waktu yang pasti akan mempengaruhi mata muda ku, tapi juga lagi pengen sedikit mendeskripsikan apa yang telah direkamnya beberapa waktu belakangan ini.
***
You Know, saya tinggal dan tumbuh di pulau terbesar yang ada di indonesia. Bayangin, sejauh mata memandang tiap sudut pulau ini, yang terlihat warna hijau. Asri, asli bukan mata saya yang jadi hijau, tapi pemandangannya memang masih sangat alami, apalagi kalau kamu masuk ke pedalamannya.
Hmm, selama ini mata saya merekam gambar tentang suatu keadaan yang nyaman, dan tentram.. Bisa dikatakan pulau ini suatu zona nyaman bagi saya dan setiap orang yang ada di tanah ini. Orang-orang itu, dari berbagai latar belakang, berbeda suku, ras, agama dan macem-macem.
Mata ini menggambarkan modernisasi yang masih jauh tertinggal dari pusat Ibu Kota Negara..tapi nggak jauh amat sih, paling nggak masyarakatnya sudah berpikir yang modern.. :)
Salah satu yang terekam melalui mata ini adalah pergerakan arah politik 2011 dan dampaknya. *Saya kan udah dewasa.. :)*
Yang saat ini lagi banyak dibicarakan dan bisa jadi Butterfly Effect *meski saat ini nggak sebesar tsunami* ialah demokrasi, tradisi atau adat istiadat.
***
Sampai di sini, kalau lagunya Maroon 5 tadi udah abis, bisa dilanjutin lagunya Viky Sianipar yang mana aja deh.. :)
***
Di sini, di pulau ini, masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang. Kami melestarikan budaya keturunan dengan membuat paguyuban, perkumpulan atas nama Suku dan semacamnya. Ini hal yang sangat wajar.
Hingga kemudian mata ini mengirim sinyal ke otak tentang bagaimana dan apa yang menjadi cita-cita mereka, seperti melestarikan budaya, meningkatkan perekonomian mereka serta menaikkan harkat dan martabatnya. Sungguh suatu hal yang sangat mulia.
tapi, lagi-lagi, kamu tahukan bagaimana sisi politik itu, seperti Black Hole. Siapapun yang memasuki ranah itu akan tersedot dan mulai mengkotak-kotakkan kepentingan dan segala macam shit-nya. Oke, i hate politic tapi nggak berarti tidak berpolitik, karena sejak lahir sampai sekarang saya ada di negeri hukum dan harus taat serta otomatis terlibat dalam prosesnya.
Kembali ke lap...top.
Tiap orang bebas berpolitik, tapi bagaimana jika paguyuban atau brigade atau laskar atau apapun namanya, tersedot dalam hitamnya politik? maka muncul benturan...... Rasanya tidak hanya di pulau ini, tapi juga pulau-pulau yang lain juga begitu. Benturan ini sangat berbahaya, karena melibatkan darah penguasa masa lampau, kebanggan dan harga diri, hal ini juga langsung menohok demokrasi atas bangsa yang multietnis.
***
Singkat cerita, suatu saat benturan ini tak dapat terelakkan. masyarakat yang sebelumnya ingin mencapai cita-cita mulia, mulai kehilangan arah. Desas-desus dari percikan lidah api segera menjalar, stabilitas terguncang. Ini yang saya maksud dengan Butterfly Effect tadi; hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang.
Harapannya, perubahan itu pastilah ke arah yang lebih baik.
Maka, jiwa ini mendesak untuk mengambil langkah, apa saja, yang penting berusaha terlibat dalam menyadarkan pentingnya demokrasi sesuai Pancasila dan UUD, namun tetap menjunjung tinggi budaya dari garis keturunan kita masing-masing sebagai anugerah dari Tuhan. Salah satunya dengan tulisan ini. Saya sangat berharap agar para pemangku kekuasaan dan segenap tetua paguyuban-paguyuban di pulau ini memiliki jiwa yang besar, toleransi dan kembali pada cita-citanya yang mulia.
Memang sedikit naif bagi kita untuk berdoa meminta perdamaian seluruh dunia.. Tapi setidaknya, itu sebuah harapan.
***
Mata manusia mungkin akan kehilangan kemampuannya membaca tulisan dari jarak 30 cm atau lebih, seiring jalannya waktu. Tapi yang lebih dikhawatirkan ialah kemampuannya agar tetap terjalin dengan otak untuk mencerna suatu peristiwa, kemudian menghubungkannya pada jiwa untuk menimbang asa.
***
Sejauh ini Kota Balikpapan menjadi kota yang yang sangat terbuka dan kota yang punya toleransi tinggi, saling menghargai antar warga.
Tetaplah seperti ini.
***
Huffff... Oke, mata saya udah belekan, lelahhh,. :besok-besok saya bakal catet hal lainnya yang lebih menarik di blog ini. Kalau saya mood :))



