Wednesday, 13 July 2011

Mata



     Wow, ada rasa haru juga setelah lamaa banget nggak liat dashboard ni blog.. :))

Kebetulan teman saya yang luar biasa baru beli domain dengan nama yang unik, cek deh di http://www.phantomhive.org jadi kepikiran buat ngecek tong sampah ini.  
Oke,, let's hear some songs from your mp3,, dimulai dengan lagu Goognight Goodnight by Maroon 5 deh, biar terasa galau dikit. :).. Ga punya lagunya? donlot sana gih.. heehe

Ada beberapa hal yang mau saya sampaikan kali ini. Hmm, masalah mata. Bukan hanya karena mengkhawatirkan rumus gravitasi kali waktu yang pasti akan mempengaruhi mata muda ku, tapi juga lagi pengen sedikit mendeskripsikan apa yang telah direkamnya beberapa waktu belakangan ini.

***

You Know, saya tinggal dan tumbuh di pulau terbesar yang ada di indonesia. Bayangin, sejauh mata memandang tiap sudut pulau ini, yang terlihat warna hijau. Asri, asli bukan mata saya yang jadi hijau, tapi pemandangannya memang masih sangat alami, apalagi kalau kamu masuk ke pedalamannya.


 Hmm, selama ini mata saya merekam gambar tentang suatu keadaan yang nyaman, dan tentram.. Bisa dikatakan pulau ini suatu zona nyaman bagi saya dan setiap orang yang ada di tanah ini. Orang-orang itu, dari berbagai latar belakang, berbeda suku, ras, agama dan macem-macem.

Mata ini menggambarkan modernisasi yang masih jauh tertinggal dari pusat Ibu Kota Negara..tapi nggak jauh amat sih, paling nggak masyarakatnya sudah berpikir yang modern.. :)

Salah satu yang terekam melalui mata ini adalah pergerakan arah politik 2011 dan dampaknya. *Saya kan udah dewasa.. :)*

Yang saat ini lagi banyak dibicarakan dan bisa jadi Butterfly Effect *meski saat ini nggak sebesar tsunami* ialah demokrasi, tradisi atau adat istiadat. 


*** 

Sampai di sini, kalau lagunya Maroon 5 tadi udah abis, bisa dilanjutin lagunya Viky Sianipar yang mana aja deh.. :)

***

Di sini, di pulau ini, masyarakatnya masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang. Kami melestarikan budaya keturunan dengan membuat paguyuban, perkumpulan atas nama Suku dan semacamnya. Ini hal yang sangat wajar. 
Hingga kemudian mata ini mengirim sinyal ke otak tentang bagaimana dan apa yang menjadi cita-cita mereka, seperti melestarikan budaya, meningkatkan perekonomian mereka serta menaikkan harkat dan martabatnya. Sungguh suatu hal yang sangat mulia.

tapi, lagi-lagi, kamu tahukan bagaimana sisi politik itu, seperti Black Hole. Siapapun yang memasuki ranah itu akan tersedot dan mulai mengkotak-kotakkan kepentingan dan segala macam shit-nya. Oke, i hate politic tapi nggak berarti tidak berpolitik, karena sejak lahir sampai sekarang saya ada di negeri hukum dan harus taat serta otomatis terlibat dalam prosesnya.

Kembali ke lap...top. 

Tiap orang bebas berpolitik, tapi bagaimana jika paguyuban atau brigade atau laskar atau apapun namanya, tersedot dalam hitamnya politik? maka muncul benturan......  Rasanya tidak hanya di pulau ini, tapi juga pulau-pulau yang lain juga begitu. Benturan ini sangat berbahaya, karena melibatkan darah penguasa masa lampau, kebanggan dan harga diri, hal ini juga langsung menohok demokrasi atas bangsa yang multietnis.

***

Singkat cerita, suatu saat benturan ini tak dapat terelakkan. masyarakat yang sebelumnya ingin mencapai cita-cita mulia, mulai kehilangan arah. Desas-desus dari percikan lidah api segera menjalar, stabilitas terguncang. Ini yang saya maksud dengan Butterfly Effect tadi; hanya sedikit perubahan pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. 

Harapannya, perubahan itu pastilah ke arah yang lebih baik.
  
Maka, jiwa ini mendesak untuk mengambil langkah, apa saja, yang penting berusaha terlibat dalam menyadarkan pentingnya demokrasi sesuai Pancasila dan UUD, namun tetap menjunjung tinggi budaya dari garis keturunan kita masing-masing sebagai anugerah dari Tuhan. Salah satunya dengan tulisan ini. Saya sangat berharap agar para pemangku kekuasaan dan segenap tetua paguyuban-paguyuban di pulau ini memiliki jiwa yang besar, toleransi dan kembali pada cita-citanya yang mulia. 

Memang sedikit naif bagi kita untuk berdoa meminta perdamaian seluruh dunia.. Tapi setidaknya, itu sebuah harapan.

***

 Mata manusia mungkin akan kehilangan kemampuannya membaca tulisan dari jarak 30 cm atau lebih, seiring jalannya waktu. Tapi yang lebih dikhawatirkan ialah kemampuannya agar tetap terjalin dengan otak untuk mencerna suatu peristiwa, kemudian menghubungkannya pada jiwa untuk menimbang asa.

***

 Sejauh ini Kota Balikpapan menjadi kota yang yang sangat terbuka dan kota yang punya toleransi tinggi, saling menghargai antar warga.  

Tetaplah seperti ini.

***

Huffff... Oke, mata saya udah belekan, lelahhh,. :besok-besok saya bakal catet hal lainnya yang lebih menarik di blog ini. Kalau saya mood :))

Sunday, 8 May 2011

Agenda Rutin Gowes Bareng Fixie Gear





Dari Hobi, Jadi Gaya Hidup Sehat

PULUHAN sepeda fixie dengan berbagai warna menarik, tampak berjejer mengelilingi Tugu Australia, yang berada di kawasan Car Free Day (CFD), Jl Jend Sudirman, Balikpapan Selatan, Minggu (1/5) lalu.

Tampaknya, komunitas yang digeluti kalangan remaja ini, sudah sejak pagi berkumpul dan menjadikan CFD sebagai salahsatu ajang Gowes bareng di hari yang cerah. “Sudah jadi agenda, tiap Minggu pagi kami berkumpul di sini, asal nggak hujan,” ujar Irfan, salahsatu pendiri komunitas fixie Balikpapan. 

Tentu saja kehadiran sekitar 50 pengendara sepeda fixie ini menjadi perhatian warga yang datang dalam kegiatan mingguan CFD, beberapa fixie gear, sebutan pengendara fixie, melakukan beberapa atraksi freestyle menarik selama berada di kawasan tersebut.
 
 Apalagi komunitas yang berawal dari hobi ini, memang tidak hanya dikenal sebagai pencinta alat transportasi biasa, tapi sudah menjadi life style atau gaya hidup bagi penggunanya, karena mempengaruhi cara hidup sehat, bahkan mempengaruhi pemilihan cara berpakaian yang disesuaikan dengan gaya seorang pengendara Fixie.“Ini life Style, yah kami saat ini mencoba mempertunjukkan suatu cara hidup Go Green melalui sepeda fixie,” kata Irfan

Menurut Irfan, hingga saat ini pertumbuhan fixie gear di Balikpapan terus meningkat, sejak kemunculannya sekitar satu tahun lalu. Hal ini, kata dia, sedikit banyak karena kesadaran khususnya para muda-mudi Balikpapan, akan cara hidup sehat yang positif dan bentuk dari sepeda itu sendiri, dengan warna nyentrik, enteng dan minimalis, membuat sepeda jenis ini berbeda dengan sepeda lainnya. “Yang pasti, perawatannya cukup mudah, semua anggota kita juga sering sharing melalui tiap pertemuan,” ucap Irfan.

Tidak hanya itu, komunitas ini juga terus terhubung dengan pencinta sepeda fixie dari daerah lainnya. Untuk melancarkan komunikasi, pihaknya aktif berbagi informasi mengenai agenda dan berbagai dokumentasi kegiatan melalui situs jejaring facebook dan twitter. “Kami berbagi cerita dengan fixie gear dari daerah lain melalui situs jejaring,” imbuh Irfan. (*)

KP, 2 Mei, 2011.

Wednesday, 27 April 2011

Ini Soal Merubah Pandangan dan Cara Hidup


Hmm,. Beberapa malam ini ada sedikit rasa yang berbeda dalam hati ini, rasa yang selalu ku sembunyikan, yang nggak pengen ku pamer-pamerkan…

Ya, beberapa malam aku sibuk berbenah, mengatur kamarku, mengatur dan membersihkan pakaian, makanan, pokoknya mengatur hidupku jadi lebih baik dan memulai hal baru,. salahsatunya memulai hubungan cinta,… upppss…. Kata keramat “Cinta”, kata yang nggak pernah terucap dari mulutku, suatu perasaan, yang menurutku amat sakral, yang bentuknya mampu mengubah semua sikap dan pandangan kita.

Oke,. sebelum dilanjutkan, ada baiknya yang baca pada muter lagu *arctic monkey yang judulnya im yours dulu… hehehe,… kalo blon ada ya donlot aja dulu….

Lanjut,.. awalnya agak susah menentukan arah menjadi pribadi yang baik, karena selama ini arah hidupku fokus pada hal-hal yang spesifik, misalkan pekerjaan, atau fokus belajar kimia, fisika, belajar bass, dan lainnya…. Fokus yang spesifik ini biasanya cuma contemporary, kalau udah selesai belajarnya, sudah bisa, terus belajar hal lainnya lagi dan begitu lagi,… Nah, beberapa hari yang lalu, setelah semua yang ku lewati selama ini, akhirnya tersadar bahwa aku perlu meluruskan semuanya dan mengejar atau fokus pada sesuatu yang lebih besar…  

Oke, mungkin kalian atau beberapa orang berpikir bahwa aku bakal fokus mengejar atau belajar cinta,. Hmm,. Bisa jadi, karena aku memang kurang mahir dalam hal ini,.. *pengakuan bodoh,…. tapi dalam hati masih ada perasaan menolak untuk mengakui hal ini.. hmm,. Seperti rasa sok hebat gitu, masak aku yang ganteng gini *bohong,.. belajar cinta sih?? Apa kata dunia….  Inilah alasan aku gak pernah memperlihatkan sisi romantic dalam diri selama ini,….

Yaa ya ya,… hmmm,. Apapun kata dunia, sadar atau reflek semua sudah ku mulai,. Hidupku jadi lebih terarah,. Nggak terlalu neko-neko meski masih suka terlihat nyentrik,…
Selain itu, ada satu falsafah hidup yang selalu kupegang,. Hidup adalah pelajaran,.. nah, dengan ini aku punya alasan bahwa, Nggak ada salahnya belajar cinta asal tidak menyesatkan seperti lagu2 ungu, kangen band atau,… whatever lah….. 

lagian, ini bukan cuma belajar cinta,. Tapi juga mencoba merubah sifat buruk ku seperti suka marah-marah padahal masalah sepele, suka telat, suka becanda ampe kelewatan, suka sombong? Yah,. Pokoknya semua yang jelek-jelek,. Sekali lagi, ini soal merubah pandangan dan cara hidup...

Hmmm,. Bagi yang deket ma aku *temen-temenku di dunia nyata,. Disarankan untuk tidak terlalu banyak membaca blog ini lagi, karena isinya bisa saja bikin kalian shok,. mungkin,. mungkin,.. Bakal banyak kata-kata mengandung cinta nantinya,… soalnya males kalo harus buat blog lagi,.. ini aja udah jarang banget di urusin,... yah, semoga nggak sebanyak kata-kata cinta dalam novel cinta cintaan gitulah!!

Huft… nah kan,. Mulai alay,…..

Monday, 25 April 2011

Alexia Motivasi Murid, Agar Kelak Hidup Layak

Semangat Guru Tunanetra


Ibarat keramik yang pecah, maka siswa tunanetra perlu kerja keras, agar dapat "melihat" potensi diri sendiri, dan terlihat lebih menarik dan bisa bersaing dengan siswa biasa.




INILAH sepenggal kalimat motivasi dari seorang guru Sekolah Luar Biasa (SLB) paket A, Alexia Nette, yang dinaungi Yayasan Ruhui Rahayu, Jl Pelita, Samarinda, dihadapan murid-muridnya.

Guru penyandang tunanetra tersebut, tampak cantik dengan kilauan bola matanya yang kelabu, memandang tepat kearah dua siswa yang juga tunanetra, dalam proses belajar mengajar.

Ya, hari itu, Selasa (20/4). Suasananya berbeda dengan sekolah biasa lain, tak ada spanduk imbauan 'harap tenang, ada ujian' karena memang sekolah yang baru seumur jagung ini belum memiliki siswa kelas 3. "Sekolah ini baru berumur dua tahun, jadi siswanya masih sedikit, semoga tahun depan siswa kami sudah bisa mengikuti UAN," katanya.

Dijelaskan, sekolah yang dipimpin Janu Ismadi itu, baru memiliki total jumlah siswa delapan orang, dengan lima pengajar aktif yang mengajarkan standar mata pelajaran yang sama seperti sekolah biasa, yang berbeda hanya cara penyampaiannya yang terkadang lebih sulit karena kekurangan sarana berupa alat peraga atau media khusus untuk menunjukkan gambar atau suatu rumus matematika pada siswa. "Tidak sesulit yang dibayangkan, paling yang sulit itu kalau harus memperkenalkan gambar atau rumus, karena kami belum punya alat peraga," ungkap wanita kelahiran Samarinda, 35 tahun yang lalu itu.

Menurut guru berpredikat S2 Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Mulawarman (Unmul) Samarinda tersebut, siswanya memiliki semangat belajar yang luar biasa, kadang mereka bahkan berlama-lama belajar melebihi waktu yang ditentukan. 

Hal ini mungkin karena keseringan Alexia memberika motivasi yang membangun pribadi siswa untuk tetap semangat mengapai impian meski terhalang keterbatasan pada diri siswa. "Waktu kecil saya memang bercita-cita jadi guru karena terdorong rasa ingin membantu orang-orang seperti diri saya sendiri supaya bisa kelak hidup layak, dan menginspirasi," urainya, sambil menata beberapa buku pelajaran berhuruf braile.

Kemudian Alexia menuturkan pengalaman sekolah dasar, hingga kuliah di Universitas PGRI, Yogyakarta, Jurusan PPKN, hingga akhirnya kembali ke kota kelahirannya pada 2001 dan memulai karirnya sebagai guru. "Jadi selain mengajar di kelas jenjang SMA, saya juga mengar murid SDLB dan SMPLB dengan mata pelajaran sains dan matematika," urainya.

Sementara itu, dirinya mengaku sering mencoba keberuntungan dengan mengikuti seleksi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) sejak tahun 1994, namun selalu gagal. Hal ini, kata dia, karena background pendidikannya bukan lulusan Jurusan Pendidikan Luar Biasa (PLB), hingga pribadi sepertinya lebih sulit menembus paradigma "Pengajar yang sehat jasmani dan rohani" padahal menurutnya, anak-anak SLB perlu guru mata pelajaran yang berkompeten di bidang mata pelajaran, bukan hanya terfokus pada pembentukan psikologi anak. "Sekarang sudah bersyukur jadi guru swasta biasa saja, umur saya juga sudah tidak muda lagi," ucapnya.

Kini, Alexia juga disibukkan sebagai pengajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Dria Merdeka, yakni salahsatu pusat pendidikan non formal inklusi, yang di kelolanya di kediamannya di Jl Merdeka. "Saya akan melakukan yang terbaik selama saya masih bisa melakukannya," imbuh Alexia. (*/ryn)

KP Edisi Senin, 25 April 2011. 


NB: duh sory, fotonya ketinggalan di kompi kantor Samarinda.. heehe